Klausul Sepihak Dari Penjual Kepada Konsumen

Apakah Barang yang Sudah Dibeli Tidak Bisa Dikembalikan Lagi ?

Kamis, 09 September 2021 | 12:00:32 WIB
Apakah Barang yang Sudah Dibeli Tidak Bisa Dikembalikan Lagi ?i Foto: Ilustrasi By : RHP & RH Law Firm

Pertanyaan : 
Assalamualaikum Wr. Wb Nama saya Anto. Saya ingin bertanya kepada RHP&RH Law Firm tentang perjanjian yang dibuat oleh penjual mengenai “Barang yang sudah dibeli tidak boleh dikembalikan”. Atas kalimat tersebut saya merasa dirugikan, karena setelah membeli saya tidak dapat menukar ataupun mengembalikan barang tersebut setelah didapati cacat dan rusak yang tanpa disadari sebelumnya. Pertanyaan saya adalah apakah boleh penjual membuat perjanjian sebelah pihak, dan bagaimana upaya saya dalam menanggapi hal ini? Terima Kasih.  

Jawaban :
Semua pasti pernah melihat plat papan atau sejenisnya di toko-toko yang kita kunjungi  dengan kalimat “Barang yang sudah dibeli tidak boleh dikembalikan” bahkan juga sering kita temukan di struk atau bon pembelian.

Pernyataan tersebut terkadang tidak sedikit membuat konsumen merasa dirugikan, sebab ternyata barang dibeli oleh konsumen rusak atau cacat, dan hal tersebut baru disadari setelah barang dibeli, maka atas kalimat diatas, barang tersebut tidak dapat dikembalikan lagi.

Adilkah perjanjian yang hanya diberikan secara sepihak oleh penjual kepada konsumen, atau apakah penjual bisa membuat ketentuan seperti itu, dan bagaimana seharusnya sikap konsumen terhadap hal demikian? 

Terima Kasih Kepada Anto, untuk menjawab pertanyaan saudara berikut beberapa penjelasannya. 

Dalam istilah hukum dikenal dengan adanya istilah klausula eksonerasi, yakni klausula tambahan yang pada umumnya ditemukan pada perjanjian baku yang meniadakan atau membatasi kewajiban satu pihak untuk membayar ganti rugi kepada pihak lain.

Adapun perjanjian baku yang mengandung klausula eksonerasi memiliki ciri tertulis, ditetapkan secara sepihak oleh pihak yang posisinya lebih kuat dan telah dipersiapkan terlebih dahalu baik secara individual maupun massal, dimana pihak yang lemah pada umumnya tidak ikut menentukan isi perjanjian (Lazim juga dikenal sebagai Perjanjian Baku). 

Di satu sisi klausula demikian memang merugikan pihak konsumen, dan disisi lain, klausula tersebut dibutuhkan oleh dunia usaha untuk efesiensi waktu dan mempermudah proses negosiasi.

Namun demikian, klausula tersebut masih mengundang perdebatan atau polemik khususnya terkait dengan asas kebebasan berkontrak dan syarat sahnya perjanjian (Pasal 1338 dan Pasal 1320 KUHPerdata) dimana semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang  bagi mereka yang membuatnya. 

Menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen 8 Tahun 1999 Pasal 18 ayat (1), pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau mencantumkan klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila menyatakan antara lain: (a) pengalihan tanggung jawab pelaku usaha; (b) menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen, (c) menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen, dan lain-lain. Pasal 18 ayat (1) huruf b ini merupakan pasangan dari Pasal 18 ayat (1) huruf c.

Apabila pelaku usaha melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada Pasal  18 Undang-Undang Perlindungan Konsumen, maka pelaku usaha dapat dipidana dengan pidana paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Rp 2000.000.000,- (dua milyar rupiah). 

Berdasarkan ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa penjual tidak bisa membuat dan/atau mencatumkan pernyataan pada struk atau bon pembelian yang menyatakan penjual berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli konsumen.

Artinya konsumen bisa mengabaikan pernyataan sepihak yang dibuat oleh si penjual. Meskipun demikian, sebaliknya konsumen juga harus lebih teliti ketika akan membeli barang (teliti sebelum membeli).

Konsumen berhak memilih, berhak untuk jadi atau tidak jadi membeli sesuatu. Pihak penjual pun harus memperhatikan pencantuman klausul baku, seperti: klasula harus menonjol dan jelas, disampaikan tepat waktu, dan adil. 

Demikian, semoga bermanfaat.

Salam dari RHP

Tulis Komentar