Asrar Rais Meradang, Ancam Bredel Media Radar Pekanbaru

Selasa, 10 Oktober 2017 | 14:07:27 WIB
Asrar Rais Meradang, Ancam Bredel Media Radar Pekanbarui Foto:

GENTAONLINE.COM-Bos Pemilik Puluhan Kios Pasar Buah di Kawasan Arengka Pasar Pagi Pekanbaru, Asrar Rais membantah bahwa bangunan pasar miliknya itu adalah ilegal.


Menurut versi Asrar Rais bahwa pasar yang dikelolanya lebih duluan ada sebelum adanya Jalan Arengka.
"Surat-surat dan pajak lengkap, belum ada Jalan Arengka," katanya,  Selasa, 10 Oktober 2017.


Namun Asrar tidak merincikan surat-surat apa yang dimaksud, apakah dokumen IMB atau surat lainnya.
Pengelola saat dimintai konfirmasi terkait dokumen.
"Maksud dinda ini apa ? sudah cros cek hak kepada saya" katanya.


Asrar juga menumpahkan kekecewaannya terhadap Radar terkait pemberitaan dugaan kios ilegal miliknya.
"Sebelum memuat berita harusnya mengkonfirmasi saya, ini malah sebaliknya" kata Asrar via pesan WhatsApp.


Berita yang dimaksud adalah dengan  judul /Merasa Dianaktirikan Walikota, Pedagang Sayur Minta Kios Ilegal Pasar Buah Arengka Diduga Milik Asrar Rais Juga Ditertibkan/.
"Ini mencemarkan nama baek saya sebagai komisioner KPID Riau dan 1. UU No 40/1999 tentang Pers. 2. Kode Etik Wartawan, 3. Pedoman Media Siber" tulisnya.
Asrar selaku pejabat Komisioner KPID Riau merasa kesal dan mengancam Bredel Media Radar dengan cara menuntut perkara pencemaran nama baik.
"Bisa saya tuntut sebagai pencemaran nama baek. Bung itu tanah bukan ilegal dan atas nama orang tua saya purna ABRI dan pajaknya dibayar tiap tahun ini pencemaran nama baik saya sebagai komisioner KPID maksud saudara apa?" tambahnya.


Asrar secara pribadi dan menggunakan powernya selaku komisioner KPID akan melakukan langkah somasi terhadap Radar.
"Siap-aja terima somasi saya
secara pribadi dan atas nama lembaga (KPID Riau,red), " ancam Asrar.


Merasa Dianaktirikan Walikota, Pedagang Sayur Minta Kios Ilegal Pasar Buah Arengka Diduga Milik Asrar Rais Juga Ditertibkan


Sebagaimana duberitakan sebelumnya, Pemko Pekanbaru tengah mencari rumusan untuk menertibkan kios pasar buah diduga ilegal milik Asrar Rais komisioner KPID Riau di Pasar Pagi Arengka Pekanbaru.


Puluhan tahun kios-kios ini berdiri dibahu jalan ,namun Pemko Pekanbaru tidak mampu menertibkannya.


Pedagang pasar sayur arengka merasa di anaktirikan oleh Walikota Pekanbaru mengingat mereka merasa sama-sama berdiri secara ilegal.
"Kenapa kami rakyat kecil pedagang sayur saja yang digusur, kios-kios jualan buah diseberang sana tidak ditertibkan, padahal mereka ilegal juga" kata Uni Reni sambil menangis menceritakan beratnya perjuangan menjadi pedagang yang dianggap ilegal ini.


Salah seorang tenaga Tim Yustisi dari anggota Satpol PP Pekanbaru mengatakan bahwa mereka menjalankan tugas berdasarkan perintah pimpinan. Alasan kenapa kios pasar buah tidak ditertipkan tergantung kebijakan pimpinan.
"Pimpinan yang memilih mana yang di tertipkan dan mana yang tidak, kami anggota satpol hanya menjalankan tugas penegak perda, mengenai kios pasar buah pimpinan sedang merumuskan caranya untuk menertibkan," tutur narasumber Radar yang tak ingin namanya di tulis.


Pemko Pekanbaru Kantongi Nama Oknum Pungli Kios Ilegal Pasar Arengka


Sebagaimana diketahui  Tim yustisi Kota Pekanbaru menyatakan telah mengantongi pelaku praktik pungutan liar (pungli) yang terjadi di pada kios-kios ilegal Pasar Pagi Arengka, dengan potensi pungli mencapai Rp300 juta perbulan.
"Ini kita sudah dapat infonya (praktik pungli). Oknum sudah kita kantongi namanya. Satu hari (pungutan) bisa Rp25.000. Kalikan saja dengan 400 pedagang, kali sebulan?," kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Pekanbaru, Zulfahmi Adrian sebagaimama dikutip dari Antara di Pekanbaru, Senin (9/10).


Zulfahmi menjelaskan hal tersebut disela-sela upaya penertiban kios ilegal di Pasar Pagi Arengka, yang merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Pekanbaru.
Sebanyak 400 lebih kios ilegal yang ditertibkan petugas yang dilakukan sejak Senin pagi tersebut. Kios semi permanen dengan hanya bermodal meja kayu dan terpal itu berdiri persis di pinggir jalur lambat di seputaran Simpang Empat Pasar Pagi Arengka.


Saat penertiban berlangsung, para pedagang mengaku membayar "upeti" kepada oknum pasar dengan besaran mencapai Rp25.000 hingga Rp30.000 perhari.


Angka itu terbilang fantastis, karena terdapat 400 hingga 500 pedagang di lokasi tersebut. Secara hitungan kasar, setiap hari pelaku bisa meraup hingga Rp10 juta. Sementara perbulan diperkirakan mencapai Rp30 juta.
"Pedagang juga mengaku ke saya uang itu disetor ke Dinas tertentu, bahkan ada yang mengaku ke Satpo PP. Ini jelas tidak benar. Kalau ke kita, ngapain saya bongkar semua disini," tegas Zulfahmi.


Lebih jauh, Zul juga mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Tim Saber Pungli Pemkot Pekanbaru dan Polresta Pekanbaru untuk mendalami hal tersebut.


Dari pantauan dilapangan, sejumlah pedagang resmi yang berjualan di komplek Pasar Pagi Arengka mengaku terganggu dengan keberadaan kios-kios ilegal.


Salah seorang pedagang sembako resmi yang berjualan di dalam komplek pasar mengaku bersyukur dengan adanya penertiban ini.
"Jelas terganggu dengan keberadaan mereka. Pasar jadi tidak teratur, parkir sembarangan. Namun kita pedagang kecil bisa apa, mereka pedagang yang berdiri di depan pasar katanya ada setor uang," kata pedagang tersebut.


Penertiban yang dilakukan tim yustisi itu melibatkan 200 personel gabungan Satpol PP Pekanbaru bersama instansi terkait digelar sejak Senin pagi. Selain itu, personel gabungan yang juga dikenal sebagai tim yustisi tersebut turut mengerahkan dua unit alat berat dalam penertiban itu.


Sasaran tim yustisi merupakan ratusan pedagang sayur, buah dan kebutuhan sembilan bahan pokok yang berjualan di jalur lambat. Jalur lambat itu dibangun oleh pemerintah setempat guna mengurai kemacetan di Simpang empat Pasar Pagi Arengka yang terkenal "biang" kemacetan saat jam sibuk.


Namun belakangan, jalur lambat justru dijadikan lahan parkir liar. Sementara disisi kiri jalur lambat tersebut ditempati oleh pedagang. (Genta/radarpku)

Tulis Komentar