Imbas Rizieq Mudik Bagi Maskapai: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Rabu, 11 November 2020 | 09:51:39 WIB
Imbas Rizieq Mudik Bagi Maskapai: Sudah Jatuh Tertimpa Tanggai Foto: Pengamat penerbangan menilai kerugian maskapai bertambah di tengah gegap gempita kepulangan Rizieq Shihab dan pembatasan okupansi akibat pandemi.

GENTAONLINE.COM - Rizieq Shihab, pentolan Front Pembela Islam (FPI), pulang kampung setelah 3 tahun menetap di Arab Saudi. Ia terbang menuju Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, dengan sorak sorai bejibun pendukungnya yang mengakibatkan kemacetan lalu lintas parah menuju bandara.

Di luar hiruk pikuk antusias pendukung Rizieq yang menjemput, terjebak para petugas bandara, kru maskapai penerbangan, hingga calon penumpang yang dijadwalkan terbang pagi itu, Selasa (10/11).

Walhasil, terjadi keterlambatan massal yang mengakibatkan maskapai terpaksa menjadwal ulang penerbangan (reschedule) atau pun mengembalikan uang tiket pesawat (refund) bagi calon penumpang terdampak.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto menyebut setidaknya 5.951 calon penumpang pesawat terdampak kemacetan penyambutan kepulangan Rizieq.

Dari sana, Novie mencatat 263 penerbangan mengalami keterlambatan terbang atau delay hingga 1-4 jam.

Tak hanya berdampak terhadap maskapai dan penumpang, operator bandara pun ikut terimbas, ia bilang enam bandara yang dioperasikan PT Angkasa Pura II (Persero) memohon perpanjangan jam operasi karena delay yang terjadi.

Pihaknya juga mencatat kerusakan fasilitas bandara, yakni dua set kursi di area kedatangan dan lahan tanaman di Terminal 3 bandara Soekarno-Hatta.

Namun, Pengamat Penerbangan Gatot Raharjo menilai rentetan kerugian ekonomi yang dialami oleh penumpang dan maskapai akibat dari penjemputan Rizieq jauh lebih besar ketimbang yang dialami operator bandara.

Sebab, keterlambatan terbang yang terjadi di satu bandara mengakibatkan runtutan gangguan terhadap bandara lain karena pesawat yang digunakan tersambung untuk rute lainnya.

"Misalnya, pesawat dari Jakarta ke Surabaya, terus lanjut ke Bali dan seterusnya. Jadi delay-nya tidak hanya di Jakarta saja, tapi juga di kota lain," katanya kepada Gentaonline.com, Rabu (11/11).

Belum lagi, kerugian maskapai menanggung akomodasi penumpang yang terdampak dengan memberikan keleluasaan reschedule atau refund.

Tentu, refund akan membuat kantong maskapai kian jebol di tengah rendahnya okupansi penerbangan.

Biaya operasional pun otomatis membengkak. Gatot bilang pemborosan bahan bakar avtur dari pesawat yang telah disiapkan hingga pembatalan penumpang menjadi faktor yang membuat maskapai merugi.

Ia mengaku prihatin sekaligus mengibaratkan kondisi maskapai yang sudah jatuh tertimpa tangga. Malang karena pendapatan turun, ramai-ramai banting harga untuk menarik calon penumpang yang terbatas, kini harus menanggung rugi gangguan operasional.

Menurut Indonesia National Air Carriers Association (INACA), saat ini maskapai hanya terbang dengan kapasitas sekitar 30 persen dari normal atau 2,5 juta penumpang per bulannya. Angka itu jauh dibanding 2019 lalu yang sekitar 8 juta orang per bulan.

"Kasihan maskapai. Di saat pandemi corona, sudah turun pendapatan dan harus menurunkan biaya operasional, ditambah dengan kondisi ini (kemarin) dipastikan ada tambahan biaya lagi," imbuhnya.

Untuk penumpang, potensi kerugian yang ditanggung tak hanya satu penerbangan yang mengalami delay. Tetapi juga, penerbangan selanjutnya bagi mereka yang melakukan transit atau yang membeli tiket pulang-pergi di hari yang sama.

Belum lagi, kegiatan masyarakat yang tertunda atau dibatalkan juga menjadi faktor kerugian lainnya, terutama untuk mereka yang terbang untuk kegiatan bisnis.

Melihat besarnya skala kerugian yang ditimbulkan, Gatot menyesalkan kejadian itu. Menurut dia, seharusnya pihak keamanan maupun pengelola bandara sudah bisa mengantisipasi hal tersebut.

Toh, tak seperti bencana yang tidak dapat diprediksi. Sebetulnya, koordinasi dapat dilakukan oleh pihak bandara bersama aparat kepolisian, sehingga penumpukan massa dapat dihindari.

Kalau sudah begini, ujung-ujungnya maskapai, masyarakat, termasuk operator bandara harus menelan rugi.

"Ya, hanya bisa menelan rugi saja. Siapa yang akan memberi kompensasi? Karena itu kan massa. Anggap saja force majeure, walaupun sebenarnya bisa dikondisikan sebelumnya oleh petugas keamanan negara maupun bandara," ungkap Gatot.

Pengamat Penerbangan Arista Atmajati turut mempertanyakan kesiapan pihak pengelola bandara dalam melakukan simulasi mitigasi risiko kejadian tersebut.

Apalagi, ia menilai gangguan massif bukan tidak pernah terjadi sebelumnya, seperti banjir atau padamnya listrik yang mengganggu sistem bandara secara keseluruhan.

Padahal, seandainya, pihak pengelola melakukan simulasi sebelumnya, kerumunan massa bisa diarahkan sehingga keterlambatan penumpang dan kru pesawat dapat diminimalisir.

Untuk industri penerbangan, ia bilang dengan disrupsi sejenis yang paling terdampak ialah rotasi pesawat. Alhasil, jam penerbangan maskapai yang seharusnya penuh, jadi terpangkas sekitar 5-6 jam.

Potensi kerugian tentu ada, namun kalkulasi tak dapat dilakukan dalam semalam. Berkaca dari pengalamannya bekerja di maskapai selama lebih dari 20 tahun, yang pasti ia memperkirakan kerugian yang ditanggung perusahaan penerbangan tidak akan terlalu signifikan.

Arista memperkirakan kerugian yang ditanggung maskapai hanya 5 persen dari pendapatan normal. "Kan itu hanya beberapa jam, kalau cuma 5-6 jam saja sih, kecil (kerugian)," katanya.

Ia hanya berharap pihak pengelola ke depannya bakal lebih sigap dalam menangani disrupsi serupa.

Secara terpisah, sejumlah maskapai penerbangan mengaku belum menghitung jumlah kerugian akibat kerumunan massa penjemput Rizieq.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, salah satunya, mengaku belum melakukan hitung-hitungan karena masih fokus mengurus kebutuhan penumpang. "Belum ngumpulin data. Ini masih fokus urusan penumpang," terang Dirut Garuda Irfan Setiaputra.

Corporate Communication Strategic Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro mengatakan sejak pukul 04.00-12.00 WIB, Selasa (10/11), terjadi keterlambatan keberangkatan dengan rata-rata penundaan selama 72 menit di Lion Air dan 62 menit di Batik Air karena menanti sejumlah penumpang yang terjebak kemacetan.

Adapun, jumlah keberangkatan dari Bandara Soekarno Hatta pada jam operasional tersebut terdampak sebanyak 43 penerbangan. Itu terdiri dari 17 penerbangan Lion Air dan 26 Penerbangan Batik Air.

Namun, Danang tak dapat menyebutkan total kerugian yang ditimbulkan. "Mengenai hal tersebut, saya belum bisa memberikan keterangan," pungkasnya.(cnn)

Tulis Komentar