Diduga Gojek Pekanbaru Abaikan Kesejahteraan Mitra, Driver: Semakin Kesini Kami Makin Susah

Selasa, 21 Juli 2020 | 16:23:55 WIB
Diduga Gojek Pekanbaru Abaikan Kesejahteraan Mitra, Driver: Semakin Kesini Kami Makin Susahi Foto: Ribuan Driver Gojek duduki Kantor Cabang PT. Gojek Indonesia di Jalan Jendral, Sudirman, Pekanbaru beberapa waktu lalu.

 

GENTAONLINE.COM-PT. Gojek Indonesia (GI) merupakan salah satu perusahaan teknologi terbesar di Indonesia yang melayani transportasi darat melalui jasa ojek. Perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim tersebut telah tersedia di lebih dari 50 kota di Indonesia, termasuk kota Pekanbaru, provinsi Riau. Namun belakangan ini diduga PT. Gojek Indonesia kembali menimbulkan masalah di Pekanbaru dan mengabaikan kesejahteraan driver sebagai mitranya. Hal itu terungkap saat redaksi menerima aduan dari perwakilan driver Gojek kota Pekanbaru, Minggu (19/7) di Jl. HR. Soebrantas Panam, Pekanbaru.

Driver Gojek di Pekanbaru, Faisal menyampaikan saat ini rekan-rekannya sesama Gojek yang masih bisa disebut sejahtera dapat dihitung jari. "Selebihnya susah semua bang. Gojek tak seperti dulu lagi. Ini aku keluar dari pagi sampai Ashar sekarang baru dapat 4 orderan, berapalah uangnya bang tak sampai 40 ribu" sebutnya saat berbincang santai dengan redaksi.

Disamping karena kondisi Covid-19 yang mempengaruhi turunnya intensitas orderan Gojek di Pekanbaru, ia mengatakan saat ini insentif/bonus bagi driver di Pekanbaru dihilangkan. Sebelumnya, perusahaan menerapkan sistem skema poin dimana driver akan mendapatkan insentif sebesar Rp.55.000 jika mencapai 20 poin yang ditargetkan dengan gambaran dapat menyelesaikan 13-14 orderan dalam waktu 1x24 jam. "Hitungannya poin 14 kemaren kita dapat bonus Rp.10.000, poin 16 bonusnya ditambah Rp.20.000 dan Tutup Poin (Tupo) 20 dapat lagi Rp.25.000 total bonusnya Rp.55.000. Sekarang itu tak ada bang, kami cuma dapat ongkos" keluh Faisal.

Hal itu disayangkan Faisal, apalagi dengan sistem pembagian order  yang tak tentu. Dikatakannya, saat ini sistem pembagian ordernya pemerataan bukan lagi sistem prioritas. "Sistem pemerataan ini bang seperti sistem giliran yang waktunya tak tentu yang pasti diatas 1 jam baru dapat orderan lagi. Bisa 1 jam sekali, 2 jam sekali malah kadang kawan-kawan nunggu sampai 4 jam tak juga dapat orderan. Ini makanya aku udah hampir 9 jam aktif baru dapat 4 orderan" tuturnya.

Di tempat yang sama driver Gojek lainnya Hidayat mengatakan hilangnya insentif/bonus digantikan dengan Program Berkat. Dimana setiap jam 08.00-20.00 WIB jika driver bisa mengumpulkan 14 poin maka sebagai reward perusahaan akan membulatkan pendapatannya sebesar Rp.100.000. "Istilahnya pemerataan pendapatan gitu bang, kalau ongkos normal kan 14 poin itu dapat ongkosnya minimal 80-90 ribu. Nah kalau dapat 14 poin tu, pendapatan driver berarti 100 ribu, dibulatkan sama pihak Gojek. Tapi diluar jam 08.00-20.00 poin nya ga masuk hitungan program berkat bang" terangnya.

Ia menduga itu memang permainan PT. Gojek Indonesia tujuannya agar perusahaan tidak terlalu banyak mengeluarkan anggaran untuk driver. "Sistem tak jelas begini, dituntutnya kami untuk dapat 10 orderan dalam waktu 12 jam. Poin saya 4,5 ni bang, aktif 5 jam baru dapat 3 orderan. Kan gila Gojek ni, sama dengan pembodohan. Dulu awal masuk Pekanbaru manis-manis bang, driver sejahtera sekarang jangan ditanya bang, banyak sengsara" pungkas Hidayat.

Dikisahkan Hidayat, dahulu awal-awal Gojek beroperasi di Pekanbaru diakuinya memberikan titik terang bagi para pengangguran di Pekanbaru. Pada awalnya, insentif/bonus yang diterima oleh driver Gojek di Pekanbaru berkisar 25-80 ribu rupiah dengan target penyelesaian minimal 10 orderan untuk mencapai 20 poin. "Dulu lumayan bang, 10 orderan dapat 20 poin bonusnya 80 ribu. Semakin kesini kami makin susah dibuatnya. Gojek mah cuek aja buat kebijakan sesuka hati (sepihak) tanpa musyawarah dengan perwakilan driver padahal itu memberatkan driver sebagai mitra" ungkapnya.

Head of Regional Corporate Affairs PT. Gojek Indonesia Sumbagut Dian Lu ketika dikonfirmasi wartawan gentaonline.com membantah tudingan tersebut. Ia mengatakan tidak ada istilah sistem pemerataan maupun prioritas. "Sistem algoritma kami memperhitungkan beberapa hal, diantaranya intensitas dan aktivitas konsumen, riwayat penyelesaian order dari mitra driver dan konsumen, serta radius jarak mitra dan driver" terangnya, Senin (20/7).

Terkait Program Berkat, Dian Lu menerangkan bahwa program tersebut diterapkan mengingat pandemi Covid-19 telah berdampak pada semua lini kehidupan. Bagi Gojek, mobilitas masyarakat yang menurun drastis berdampak pada sepinya order. "Hal ini secara otomatis membuat mitra driver kesulitan mengumpulkan pendapatan harian. Namun, Gojek berusaha untuk membantu meringankan kesulitan yang dihadapi mitra driver dan ekosistem Gojek secara keseluruhan" ujarnya.

Soal insentif, ia mengatakan itu apresiasi dari Gojek kepada mitra atas kinerja mereka. Adanya insenitif adalah bonus tambahan yang diberikan perusahaan untuk menjaga kualitas layanan. Skema insentif/bonus selalu menyesuaikan dengan kondisi pasar. Karena, tujuannya adalah untuk mengupayakan titik temu terbaik antara permintaan pelanggan dan ketersediaan mitra Gojek.

"Seluruh inisiatif tersebut kami lakukan meski Gojek sendiri juga ikut merasakan dampak yang signifikan akibat pandemi covid-19, sebagaimana yang dirasakan oleh pelaku industri lainnya" tutup Dian.

Catatan redaksi gentaonline.com, pada bulan Februari 2020 lalu kantor PT. Gojek Indonesia di Pekanbaru didemo oleh ribuan driver Gojek. Informasi di lapangan, aksi tersebut merupakan puncak kekesalan mitra driver atas kebijakan perusahaan yang semena-mena. Terakhir yang terbaru, tepat tanggal 10 hingga 11 Juli 2020 ribuan mitra driver Gojek yang tegabung dalam puluhan Basecamp dan posko se-Pekanbaru kembali melakukan aksi mereka yakni Off Bid Masal/Mogok Kerja sebagai bentuk kekecewaan mitra driver Gojek di Pekanbaru. (Erik)

Tulis Komentar